Select your Top Menu from wp menus

Wisata Air Terjun Tumpuk Sewu Di Lumajang

Wisata Air Terjun Tumpuk Sewu Di Lumajang

Travel,Fifa Berita – Tidak Komplit rasa-rasanya apabila bertandang ke Lumajang tanpa ada nikmati pesona alamnya. Satu diantaranya Air Terjun Kapas Biru.

” Satu, dua, tiga, empat, ehh disana masih tetap ada lagi ding, jadi lima, “ gumam saya.

Wisata Air Terjun Tumpuk Sewu Di Lumajang

Jari-jari tangan menunjuk-nunjuk serta bola mata mencari apakah masih tetap ada yang lewatkan dari pandangan apa tak. Demikianlah keseruan waktu saya, Fita, Yasmin serta Gallus tiba di satu tebing yang segera bertemu dengan ngarai besar, super panjang serta menaruh banyak air terjun di segi tebing tebingnya.

Tempat yang kami kunjungi pada kesempatan ini yaitu Air Terjun Kapas Biru yang terdapat di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Bila ditempuh dari Kota Malang, sekitaran 3 jam perjalanan memakai mobil atau motor.

Sepintas pandang serupa dengan Grand Canyon tetapi dengan versus yang lebih hijau nan subur. Serta bisa saya yakinkan bila air terjun yang saya tunjuk umumnya tentu masih tetap begitu alami serta perawan, sepintas jalur untuk menuju kesana berkesan susah karna terdapat diantara tebing nan tinggi menjulang serta di sisinya mengalir sungai deras membawa air yang terbaawa dari Gunung Semeru.

Tetapi dari sini kami masih tetap menebak-nebak mana kiranya air terjun yang bernama Kapas Biru. Apakah yang terdapat paling jauh di ujung sana? Apa yang di samping sini? Ah, dari pada selalu menebak-nebak tambah baik kami selekasnya mengambil langkah karna jalur juga telah siap menyongsong kami.

Jalur yang kami lalui segera alami penurunan meliuk-liuk dengan jejeran anak tangga yang telah disiapkan oleh pengelola. Kaki serta tangan berayun selaras dengan bola mata yang tidak henti-hentinya melihat keelokan ngarai yang ada disamping kanan.

Hingga langkah kaki berhenti pada suatu tangga vertikal dengan kemiringan nyaris 90 derajat. Dengan memantapkan kemauan kami berempat satu persatu menuruni anak tangga dengan perlahan-lahan serta tentu. Jalur tracking yang selalu alami penurunan menunjukkan begitu berat perjalanan pulang kelak.

Saat telah tiba ujung jalur alami penurunan, kami juga telah sejajar dengan bibir sungai bernama Glidik yang saya saksikan dari atas terlebih dulu. Memanglah demikian deras aliran airnya, membawa berkubik kubik air bercampur pasir sebagai barokah paling dinanti untuk beberapa penambang pasir yang beroperasi di segi selatan lereng Gunung Semeru.

Jalur mulai melandai dengan sesekali melintas sebagian air terjun kecil yang jatuh segera dari tebing vertikal di segi kiri kami jalan. Sesaat saya hentikan langkah nikmati kesegaran airnya dibawah cahaya matahari yang menyengat sambil memerhatikan tebing tebing yang menjulang.

Disini juga saya di buat ajukan pertanyaan bertanya, bagaimana tempat ini dapat terwujud? Apa karna kesibukan vulkanis Semeru yang mengukir ngarai hingga terbentuk air terjun seperti ini?

” Yang mana air terjunnya mas? “ bertanya Gallus

” Tentu yang itu lhooo, yang paling jauh diseberang sana? “ Tutur Yasmin memberikan.

” Udahlah, lakoni saja! Kelak juga tau sendiri yang mana air terjunnya, “ ujarku sembari terkekeh lihat tingkah laku dua saudaraku yang terlihat telah kelelahan.

Sesudah nyaris 40 menit jalan, kami masuk satu dataran luas dengan kiri kanan ada banyak petak sawah yang kelihatannya tidak tertangani. Jalur meliuk ke kiri menjauh dari air terjun yang ditunjuk oleh Gallus serta Yasmin terlebih dulu. Jembatan bambu tua seolah jadi gerbang selamat datang bersamaan dengan bunyi gemuruh yang makin terdengar kencang.

Sang Kapas Biru juga saat ini memperlihatkan wujudnya. Situasi teduh serta hawa sejuk seolah menyongsong kami dengan perkataan selamat datang. Cahaya matahari masuk di antara bermacam tumbuhan sebagai kanopi alami. Air yang terlihat dengan jatuh dengan bebasnya membuat bulir bulir air selembut kapas yang terbang tertiup angin lembut.

Tidak merasa kaki makin enteng untuk mengambil langkah bahkan juga lari melupakan semuanya rasa pegal. Keringat yang keluar perlahan-lahan menguap saat hawa fresh membelai badan kami. Sesaat saya rebahkan badan di satu batang bamboo yang direntangkan jadi satu kursi. Saya hirup dalam dalam kedamaian yang di tawarkan oleh Kapas Biru. Prima! Tersebut yang saya rasakan.

Saat ini saya bangkit serta selekasnya mengajak yang lain untuk lebih mendekat ke ruang air terjun untuk mencari sebagian photo. Tripod saya gunakan dengan kamera yang telah menancap di ujungnya.

Bertukaran saya mengarahkan Fita, Yasmin serta Gallus buat aku ambillah gambar dengan latar belakang sang Kapas Biru. Tidak ketinggal juga saya juga ikut serta untuk ambillah sisi didalam bingkai photo, karna memanglah sayang bila ada ditempat seindah ini kita tidak mengabadikannya.

Dalam monitor kamera saya cobalah mencermati beberap hasil photo yang didapat. Saya cobalah perhatikan di bagian-bagian photo ada warna biru dalam aliran airnya serta dalam waktu relatif cepat juga saya dapat ambillah rangkuman bila nama Kapas Biru datang dari percikan air yang deras sampai menyebabkan buih-buih air dengan warna kebiruan.

Kapas Biru memiliki kekhasan dari tempat jatuhnya air diantara tebingnya. Berupa kerucut kecil yang sepintas air bak keluar di dalam sisi tebing. Mengalirkan air yang demikian derasnya serta bikin serpihan air selembut kapas.

Seiring waktu berjalan nama Kapas Biru makin tenar diantara telinga beberapa penggiat alam bebas, terlebih dengan makin banyak photo Kapas Biru di tiap-tiap lini saat jadikan Kapas Biru bak surga tersembunyi yang baru diketemukan.

Gelombang pengunjung juga makin berdatangan. Pasti sesuai sama harapan warga sekitaran, dengan ramainya pengunjung makin besar juga rejeki yang datang untuk warga yang tinggal di sekitaran Kapas Biru.

Tetapi searah dengan gelombang wisatawan yang makin besar dalam lubuk hati yang terdalam saya mengharapkan supaya kita semuanya memiliki kesadaran selalu untuk melindungi keasrian serta kebersihan Kapas Biru yang begitu indah ini.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *